Advertisement

Akibat Hukum Bagi Penyewa yang Melakukan Wanprestasi Dalam Perjanjian Sewa Rumah

Oleh :

Muhamad Syafik Muafa         (931214617)

Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Kediri


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Di dalam sewa menyewa ada berbagai macam perjanjian, termasuk perjanjian sewa rumah. Rumah adalah salah satu kebutuhan manusia untuk tempat tinggal atau bahkan ada yang memanfaatkan untuk membuka usaha seperti buka warung makan, warung kopi, dan lain-lain. Selain itu beberapa masyarakat lebih memilih menyewa rumah dari pada membeli rumah.

Alasannya misalnya lebih murah, ini alasan umum mengapa memilih untuk sewa rumah dari pada beli rumah tentunya kendala finansial. Sebagian masyarakat percaya bahwa menyewa rumah adalah alternatif sementara sambil menabung sampai bisa membeli rumah.

Hal ini lebih bagus ketimbang memaksakan diri untuk melakukan kredit rumah di luar kemampuan keuangan yang kita miliki. Menurutnya, sewa bisa lebih mahal atau bahkan lebih murah, tergantung dari pada area rumah. Hal ini bisa menyebabkan wanprestasi dalam pemenuhan hak dan kewajiban dari para pihak yang berkaitan.

Rumusan Masalah

Bagaimana akibat hukum bagi penyewa rumah dan bagaimana solusi dari wanprestasi itu sendiri.

Tujuan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui akibat hukum bagi penyewa rumah yang melakukan wanpresatsi dalam perjanjian sewa menyewa rumah.


BAB II

ISI

Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah jenis penelitian hukum normatif, karena penulisan ini mengkaji studi dokumen, yakni menggunakan berbagai data skunder seperti peraturan perundang-undangan dan berupa buku hukum.

Pembahasan

Wierjono Rodjodikoro mendefinisikan Perjanjian sebagai sebuah perhubungan hukum tentang harta benda di antara dua beah pihak. Di mana pihak pertama berjanji untuk melakukan suatu hal atau bahkan tidak melakukannya sama sekali. Sedangkan pihak lainnya berhak untuk menuntut pelaksanaan perjanjian tersebut.[1] Sedangkan menurut KUHP di artikan perjanjian sebagai suatu perbuatan di mana seseorang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.

Suatu perjanjian mempunyai hak dan kewajiban terhadap pelakunya. Hak bagi orang yang menyewakan rumah adalah menerima harga sewa yang telah ditentukan, sedangkan kewajibannya diatur dalam kitab undang-undang hukum perdata pasal 1551 dan pasal 1552. Kemudian hak bagi penyewa adalah menerima rumah yang disewakan dengan keadaan baik, sedangkan kewajiban bagi penyewa diatur dalam kitab undang-undang hukum perdata pasal 1560 sampai dengan pasal 1566, kewajibannya sebagai berikut :

  • Baya uang sewa di waktu yang sudah ditentukan
  • Tidak diperbolehkan mengubah tujuan barang sewa
  • Memberikan ganti rugi apabila terjadi kerusakan yang diakibatkan oleh penyewa
  • Mengembalikan barang sewa dalam keadaan baik saat perjanjian sewa menyewa sudah habis
  • Menjaga barang sewaan sebagai tuan rumah yang bertanggung jawab
  • Tidak diperbolehkan menyewakan lagi barang sewaannya kepada pihak atau orang lain[2]

Dalam sebuah perjanjian sewa menyewa, penyewa sering melakukan wanprestasi seperti tidak melakukan pembayaran pada waktu yang telah ditentukan, merusak barang-barang yang sebelumnya masih dalam keadaan baik, dan tidak menjaga barang-barang yang ada dirumah tersebut. Atas tindakan yang dilakukan penyewa maka ada akibat hukum yang berlaku, yaitu :

  • Membayar ganti rugi yang dialami pihak yang menyewakan rumah
  • Pembatalan perjanjian
  • Pengalihan resiko
  • Membayar biaya perkara, jika diperkarakan di pengadilan
  • Memenuhi perjanjian jika masih dapat dilakukan, atau pembatalan perjanjian disertai dengan membayar atas kerugian yang didapat oleh pihak yang menyewakan rumah tersebut.

Pasal 1267 KUHPer mengatur beberapa hal yang dapat dituntut pemilik dari pihak yang ingkar janji atau wanprestasi, yaitu : [1] Pemenuhan perikatan, [2] Pemenuhan perikatan dengan ganti kerugian,[3] Ganti kerugian sewa, [4] Pembatalan perjanjian sewa, [5] Pembatalan perjanjian dengan ganti kerugian barang sewa[3]

Menurut Yahya Harahap, wanprestasi merupakan sebuah pelaksanaan kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Salah satu pihak dikatakan wanprestasi, apabila dia di dalam melakukan pelaksanaan perjanjian telah lalai sehingga terlambat dari jadwal waktu yang ditentukan atau dalam melaksanakan prestasi tidak menurut selayaknya.[4]

Dalam pasal 1313 KUHP perjanjian yang dibuat mengikat orang yang membuat. Penyewa maupun yang menyewakan harus menaati apa yang telah disepakati, keharusan itu lahir dari perjanjian yang telah dibuat yang berkekuatan sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.[5]

Solusi atas terjadinya wanprestasi dalam perjanjian sewa menyewa ialah melalui jalur non litigasi dan litigasi yang menjelaskan bahwa :

  • Non Litigasi (diluar pengadilan)

Melakukan negosiasi yang telah disepakati kedua belah pihak yang melalui perundingan langsung diantara para pihak.

  • Litigasi (melalui jalur pengadilan)

Mengajukan gugatan perdata kepengadilan mengenai wanprestasi yang terjadi dalam perjanjian sewa menyewa rumah tersebut.


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dalam sebuah perjanjian sewa menyewa, penyewa sering melakukan wanprestasi seperti tidak melakukan pembayaran pada waktu yang telah ditentukan, merusak barang-barang yang sebelumnya masih dalam keadaan baik, dan tidak menjaga barang-barang yang ada dirumah tersebut. Atas tindakan yang dilakukan penyewa maka ada akibat hukum yang berlaku, yaitu :

  • Membayar ganti rugi yang dialami pihak yang menyewakan rumah
  • Pembatalan perjanjian
  • Pengalihan resiko
  • Membayar biaya perkara, jika diperkarakan di pengadilan
  • Memenuhi perjanjian jika masih dapat dilakukan, atau pembatalan perjanjian disertai dengan membayar atas kerugian yang didapat oleh pihak yang menyewakan rumah tersebut.

Pasal 1267 KUHPer mengatur beberapa hal yang dapat dituntut pemilik dari pihak yang ingkar janji atau wanprestasi, yaitu : (1) Pemenuhan perikatan, (2) Pemenuhan perikatan dengan ganti kerugian, (3) Penggantian kerugian, (4) Pembatalan perjanjian sewa, (5) Pembatalan perjanjian dengan ganti kerugian sewa.

Solusi atas terjadinya wanprestasi dalam perjanjian sewa menyewa ialah melalui jalur non litigasi dan litigasi yang menjelaskan bahwa :

  • Non Litigasi (diluar pengadilan)

Melakukan negosiasi yang telah disepakati kedua belah pihak yang melalui perundingan langsung diantara para pihak.

  • Litigasi (melalui jalur pengadilan)

Mengajukan gugatan perdata kepengadilan mengenai wanprestasi yang terjadi dalam perjanjian sewa menyewa rumah tersebut.

Daftar Pustaka

Dewa Nyoman Rai Asmara Putra, dan Ketut Artadi. 2010.  Hukum Perjanjian Kedalam Perancangan Kontrak. Denpasar: Udayana University Press.

Rodjodikoro, Wierjono. 2000. Azaz-Azaz Hukum Perjanjian. Bandung: Mazdar Madju.

Harahap, Yahya. 2017. Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.


[1] Wierjono Rodjodikoro, Azaz-Azaz Hukum Perjanjian, (Bandung: Mazdar Madju, 2000)

[2] Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

[3] Ibid.

[4] Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, (Jakarta: Sinar Grafika, 2017)

[5] Ketut Artadi dan Dewa Nyoman Rai Asmara Putra, Hukum Perjanjian Ke dalam Perancangan Kontrak, (Denpasar: Udayana University Press, 2010)

Advertisement

Tinggalkan komentar